Harga BBM Naik Malah Menambah Beban Rakyat

Editor: Asmuni

Anggota DPRD Kabupaten Sintang dari Fraksi Partai Demokrat, Maria Magdalena. Foto:int
Sintang, Senentang.id – Pemerintah resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya BBM jenis penugasan seperti Pertalite dan juga Solar Subsidi hingga Pertamax sejak 3 September 2022.

Terbaru, harga Pertalite yang semula dijual Rp 7.650 kini menjadi Rp 10 ribu per liter.Begitu juga Solar yang dulu dibanderol Rp 5.150 sekarang naik menjadi Rp 7.200 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada BBM non-subsidi, Pertamax yang kini dijual Rp 14.500 dari sebelumnya Rp 12.500.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Maria Magdalena menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM saat ini masih kurang tepat.

“Saya heran, kok bisa pemerintah menaikkan harga BBM begitu tinggi, bukannya masyarakat kita saat ini masih terkena dampak dari Pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah menaikkan harga BBM tidak berdasar. Pasalnya, harga minyak mentah dunia menurun tajam dari USD120 per barel beberapa bulan yang lalu menjadi di bawah USD90 per barel pada pertengahan Agustus 2022.

“Semestinya, pemerintah melakukan efisiensi anggaran dengan menunda proyek-proyek pencitraan. Sebut saja, Ibu Kota Negara (IKN),” ujarnya. 

Selain itu sambungnya, kenaikan harga BBM juga menyebabkan beberapa bahan pokok menjadi naik.

“Dengan naiknya harga BBM membuat kehidupan rakyat yang sudah sulit menjadi makin sulit. Bukannya mengurangi beban rakyat, tapi malah menambah beban,” ungkapnya. 

Oleh sebab itu, Maria Magdalena meminta pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan yang telah dibuat.

“Kondisi rakyat belum pulih akibat pandemi, malah semakin diperberat oleh Pemerintah. maka kita meminta kembalikan harga BBM ke harga semula,” pungkasnya. (Tf/D2)

Share:
Komentar

Berita Terkini